Obat Diabetes Melitus Alami, Habbatus Sauda Syifa


Habbatus sauda Syifa, Obat Aneka Penyakit


Untuk manfaat Habbatus Sauda telah banyak diteliti dan diulas, diantaranya adalah:
(ditulis ulang sesuai yang tercantum di kemasan Habbatus Sauda, mungkin banyak lagi manfaat yang terkandung di Habbatus Sauda).

Khasiat Minyak Habbatus Sauda “Syifa”

Zat-zat aktif yang terkandung dalam Minyak Habbatus Sauda ”Syifa” memiliki kemampuan dalam menyembuhkan berbagai penyakit, antara lain:

  1. Mengobati penyakit Diabetes Melitus
  2. Sangat efektif dalam menurunkan kadar gula dalam darah
  3. Mengobati keputihan
  4. Meningkatkan produksi dan kualitas ASI
  5. Memperbaiki sistem kekebalan tubuh (antibodi)
  6. Meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh
  7. Memperbaiki hormon sexual, meningkatkan kesuburan pria (meningkatkan kualitas dan jumlah sel sperma). Cocok untuk orang yang ingin punya keturunan
  8. Mengatasi gangguan seksual dan impotensi
  9. Anti alergi dan anti bakteri
  10. Anti radang (mengobati berbagai macam radang)
  11. Mengobati penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus seperti cacar, herpes, dll.
  12. Anti tumor dan kanker
  13. Mengatasi tekanan darah tinggi
  14. Mengobati tekanan darah rendah
  15. Menyembuhkan infeksi saluran kemih
  16. Mengobati penyakit paru-paru (Asma, Bronkhitis, TBC, dll)
  17. Mengobati flu dan batuk
  18. Menyembuhkan penyakit ginjal (batu ginjal)
  19. Mengatasi depresi dan kelelahan
  20. Anti Oksidan dan anti penuaan dini
  21. Menormalkan kadar kolesterol dalam darah
  22. Mengatasi gangguan kulit (eksim, jerawat, flek dan luka kulit)
  23. Mengobati epilepsi dan kejang
  24. Memacu pertumbuhan rambut dan mencegah kerontokan
  25. Mengobati gangguan pencernaan (sakit maag) dan diare
  26. Anti nyeri (analgesia)
  27. Mengobati sakit kepala (migrain)
  28. Menyembuhkan anemia
  29. Mengobati dan mengeringkan luka-luka yang terbuka
  30. Menormalkan aktifitas otot-otot jantung
  31. Menyembuhkan penyakit liver / hepatitis dan perlemakan hati karena alkohol

Diabetes Melitus

Manusia perlu makan. Lalu makanan itu dapat terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak. Glukosa adalah unit satuan karbohidrat yang terkecil. Dalam tubuh manusia, glukosa dipergunakan untuk membentuk energi. Jika berlebih maka tugas insulin, suatu enzim dalam tubuh manusia, untuk menyimpan kelebihan gula dalam darah ke bentuk cadangan di hati, otot dan organ lainnya.

Jika proses diatas berlangsung seimbang, maka kelebihan glukosa dalam tubuh manusia tidak akan menimbulkan penyakit. Tapi jika kadar insulin rendah, atau insulin tidak diproduksi maka ini dapat menyebabkan kadar glukosa menumpuk dalam darah atau yang lebih dikenal dengan sakit gula.

Sakit gula, atau yang dalam istilah medis dikenal dengan Diabetes Melitus, bisa dialami siapa saja, baik yang kurus atau yang gemuk, baik yang muda atau yang tua, baik wanita atau pria. Diabetes Melitus, seperti halnya penyakit lain, juga menimbulkan gejala. Gejala tersebut ada yang khas, atau disebut juga gejala klasik, dan gejala yang tidak khas.

Gejala klasik dari Diabetes Melitus antara lain berat badan menurun, banyak buang air kecil (poliuria), banyak minum (polidipsi) dan banyak makan (polifagi). Gejala tidak khas dapat berupa kesemutan, gangguan penglihatan, gatal, gangguan ereksi atau keputihan.
Disamping itu, didapatkan juga beberapa faktor yang berpotensi mengakibatkan seseorang menderita Diabetes Melitus. Faktor-faktor tersebut dikenal dengan faktor risiko Diabetes Melitus, diantaranya:

1. usia > 45 tahun
2. kegemukan
3. hipertensi
4. riwayat keluarga Diabetes Melitus
5. riwayat melahirkan bayi dengan BB > 4kg
6. riwayat Diabetes Melitus pada saat kehamilan
7. penderita PJK (penyakit jantung koroner), TBC, hipertiroidisme
8. kadar lipid yang tinggi

Berdasarkan patofisiologinya Diabetes Melitus terbagi menjadi 2 tipe, yaitu Diabetes Melitus tipe 1 dan Diabetes Melitus tipe 2 (yang selanjutnya akan dibahas lebih banyak). Diabetes Melitus tipe 1 diakibatkan kerusakan dari sel-sel penghasil insulin sedang Diabetes Melitus tipe 2 dikarenakan resistensi insulin ataupun berkurangnya sekresi insulin. Selain dua kelompok besar Diabetes Melitus tadi, dikenal juga Diabetes Melitus tipe lain (yaitu akibat obat, akibat infeksi, akibat imunologi dll) serta Diabetes Melitus pada saat kehamilan.

***

Jika seseorang memiliki gejala diatas, atau memiliki faktor risiko Diabetes Melitus, disarankan untuk memeriksa kadar gula darahnya. Kadar gula darah puasa yang normal adalah <110 mg/dl dan kadar gula darah sewaktu yang normal adalah <200 mg/dl. Jika pada saat pemeriksaan didapatkan kadar gula darah puasa ≥110 mg/dl atau kadar gula darah sewaktu ≥200 mg/dl, dapat dilakukan pemeriksaan ulang untuk kemudian ditegakkan diagnosis pada orang tersebut.

***

Bagaimana menegakkan diagnosis Diabetes Melitus?
Jika seseorang memiliki gejala klasik Diabetes Melitus maka gula darah sewaktu ≥200 mg/dl atau gula darah puasa ≥126 mg/dl sekali saja cukup untuk menegakkan diagnosis Diabetes Melitus.
Jika keluhan tidak khas, perlu 2 kali pemeriksaan gula darah yang menunjukkan gula darah sewaktu ≥200 mg/dl atau gula darah puasa ≥126 mg/dl.

Lalu apa yang bisa dilakukan jika telah terdiagnosa Diabetes Melitus?
Yang harus dilakukan adalah kelola kadar gula darah yang berlebih dalam tubuh kita

Mengapa pengelolaan kadar gula darah harus dilakukan?
Hal ini dilakukan untuk mencegah komplikasi yang mungkin timbul, baik itu komplikasi akut ataupun komplikasi menahun.
Komplikasi akut antara lain :
Hipoglikemi
Gejala hipoglikemia:
* Lapar, mual, tekanan darah turun
* Lemah, lesu, sulit bicara
* Keringat dingin
* Tidak sadar dengan atau tanpa kejang
Komplikasi akut lainnya adalah terjadinya penurunan kesadaran yang tiba-tiba (pingsan) atau yang dalam istilah medis dikenal dengan keadaan koma diabetikum.
Sedangkan komplikasi menahun dapat mengenai mata (retinopati diabetikum), ginjal (gagal ginjal), persarafan (neuropati), pencernaan (diare, konstipasi), saluran kemih (disfungsi seksual), jantung(gagal jantung) dan ekstrimitas (ulkus)

Kapan pengelolaan kadar gula darah harus dilakukan?
Sedini mungkin, setelah terdiagnosa sebagai penderita Diabetes Melitus

Bagaimana pengelolaan kadar gula darah yang baik?
Hal ini dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

1. Perencanaan makan
Makan dianjurkan seimbang dengan komposisi energi dari karbohidrat 60-70%, protein 10-15%, lemak 20-25%.
Prinsip perencanaan makanan
* Tidak ada makanan yang dilarang, hanya dibatasi sesuai kebutuhan (tidak berlebih).
* Menu sama dengan menu keluarga, gula dalam bumbu tidak dilarang.
* Serta teratur dalam jadwal, jumlah dan jenis makanan (3J)
Prinsip pembagian porsi makanan sehari-hari
* Disesuaikan dengan kebiasaan makan dan diusahakan porsi tersebar sepanjang hari.
* Disarankan porsi terbagi (3 besar dan 3 kecil):
1. makan pagi –makan selingan pagi
2. makan siang –makan selingan siang
3. makan malam-makan selingan malam
(hal ini untuk mencegah terjadinya hipoglikemia terutama bagi yang menggunakan insulin kerja panjang)

2. Latihan jasmani
Manfaat latihan jasmani:
* Menurunkan kadar gula darah (dengan mengurangi resistensi insulin, meningkatkan sensivitas insulin)
* Menurunkan berat badan
* Mencegah kegemukan
* Mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi
Olaharaga yang bisa dilakukan diantaranya jogging, berlari, renang, bersepeda. Latihan yang dilakukan sebaiknya dilakukan berkesinambungan, dipilih yang berirama yaitu otot-otot berkontraksi dan relaksasi secara teratur, dilakukan selang seling antara gerak cepat dan gerak lambat, misal: jogging diselingi jalan, jalan cepat diselingi jalan lambat
Dan latihan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan dari intensitas ringan sampai sedang hingga mencapai 30-60 menit. Latihan hendakanya dilakukan 3x dalam seminggu
Yang perlu diperhatikan sebelum memulai latihan:
* Kenakan sepatu yang sesuai
* Beri asupan makanan dan cairan yang cukup
* Lakukan peregangan dan pemanasan saat memulai dan mengakhiri selama 5-10 menit
* Hindari berlatih pada suhu terlalu panas/dingin
* Jangan teruskan bila ada gejala hipoglikemia
Strategi menghindari hipoglikemia:
* Periksa glukosa darah sebelum dan sesudah latihan dalam kurn waktu 30 menit untuk Mengetahu gula darah stabil atau tidak
* Latihan sebaiknya dilakukan 1-3 jam setelah makan

3. Menggunakan obat penurun gula darah
Berbagai jenis obat dengan berbagai efek kini dapat kita temui di kalangan masyarakat. Pemakaiannya bertahap mulai dari obat yang diminum hingga penggunaan insulin. Penggunaan insulin biasanya dilakukan oleh penderita Diabetes Melitus tipe 1, dimana insulin sama sekali tidak dihasilkan tubuh. Sedangkan pada penderita Diabetes Melitus tipe 2, dimana defek terletak pada fungsi insulin bukan pada jumlah insulin, penggunaan insulin biasanya dilakukan setelah efek yang diinginkan tidak dapat dicapai hanya dengan menggunakan obat yang diminum.

(diambil dari Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe 2 dan Harrison's Manual of Medicine)

Sumber : http://pensilwarna.blogspot.com/2007/04/diabetes-melitus_16.html

Diabetes mellitus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Pihak Wikipedia Indonesia tidak dapat bertanggung jawab dan tidak bisa menjamin bahwa informasi kedokteran yang diberikan di halaman ini adalah benar.
Mintalah pendapat dari tenaga medis yang profesional sebelum melakukan pengobatan.
Halaman ini belum atau baru diterjemahkan sebagian dari bahasa Inggris.
Bantulah Wikipedia untuk melanjutkannya. Lihat panduan penerjemahan Wikipedia.
Diabetes mellitus
ICD-10 E10–ICD-10 Bab E|E14
ICD-9 250
MedlinePlus 001214
eMedicine med/546 emerg/134
MeSH C18.452.394.750
Lingkaran biru, adalah simbol bagi diabetes mellitus, sebagaimana pita merah untuk AIDS.[1]

Diabetes mellitus (DM) (dari kata Yunani διαβαίνειν, diabaínein, "tembus" atau "pancuran air", dan kata Latin mellitus, "rasa manis") yang umum dikenal sebagai kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglisemia (peningkatan kadar gula darah) yang terus-menerus dan bervariasi, terutama setelah makan. Sumber lain menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan diabetes mellitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron.[2]

Semua jenis diabetes mellitus memiliki gejala yang mirip dan komplikasi pada tingkat lanjut. Hiperglisemia sendiri dapat menyebabkan dehidrasi dan ketoasidosis. Komplikasi jangka lama termasuk penyakit kardiovaskular (risiko ganda), kegagalan kronis ginjal (penyebab utama dialisis), kerusakan retina yang dapat menyebabkan kebutaan, serta kerusakan saraf yang dapat menyebabkan impotensi dan gangren dengan risiko amputasi. Komplikasi yang lebih serius lebih umum bila kontrol kadar gula darah buruk.

Daftar isi

  • 1 Penyebab
  • 2 Jenis
    • 2.1 Diabetes mellitus tipe 1
    • 2.2 Diabetes mellitus tipe 2
    • 2.3 Diabetes mellitus gestasional
  • 3 Gejala
  • 4 Diabetes dan puasa
  • 5 Catatan dan referensi
  • 6 Pranala luar

Penyebab

Pembentukan diabetes yang penting adalah dikarenakan kurangnya produksi insulin (diabetes mellitus tipe 1, yang pertama dikenal), atau kurang sensitifnya jaringan tubuh terhadap insulin (diabetes mellitus tipe 2, bentuk yang lebih umum). Selain itu, terdapat jenis diabetes mellitus yang juga disebabkan oleh resistansi insulin yang terjadi pada wanita hamil. Tipe 1 membutuhkan penyuntikan insulin, sedangkan tipe 2 diatasi dengan pengobatan oral dan hanya membutuhkan insulin bila obatnya tidak efektif. Diabetes mellitus pada kehamilan umumnya sembuh dengan sendirinya setelah persalinan.

Pemahaman dan partisipasi pasien sangat penting karena tingkat glukosa darah berubah terus, karena kesuksesan menjaga gula darah dalam batasan normal dapat mencegah terjadinya komplikasi diabetes. Faktor lainnya yang dapat mengurangi komplikasi adalah: berhenti merokok, mengoptimalkan kadar kolesterol, menjaga berat tubuh yang stabil, mengontrol tekanan darah tinggi, dan melakukan olah raga teratur.


Tabel: Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa dengan metode enzimatik sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM (mg/dl).[2] Bukan DM Belum pasti DM DM
Kadar glukosa darah sewaktu:


Plasma vena <110 110 - 199 >200
Darah kapiler <90 90 - 199 >200
Kadar glukosa darah puasa:


Plasma vena <110 110 - 125 >126
Darah kapiler <90 90 - 109 >110

Jenis

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui tiga bentuk diabetes mellitus, yaitu tipe 1, tipe 2, dan diabetes gestasional (terjadi selama kehamilan) [3].

Diabetes mellitus tipe 1

Diabetes mellitus tipe 1 — dulu disebut insulin-dependent diabetes (IDDM, "diabetes yang bergantung pada insulin"), atau diabetes anak-anak, dicirikan dengan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Sampai saat ini diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah. Diet dan olah raga tidak bisa menyembuhkan ataupun mencegah diabetes tipe 1. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini mulai dideritanya. Selain itu, sensitivitas maupun respons tubuh terhadap insulin umumnya normal pada penderita diabetes tipe ini, terutama pada tahap awal.

Penyebab terbanyak dari kehilangan sel beta pada diabetes tipe 1 adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh.

Saat ini, diabetes tipe 1 hanya dapat diobati dengan menggunakan insulin, dengan pengawasan yang teliti terhadap tingkat glukosa darah melalui alat monitor pengujian darah. Pengobatan dasar diabetes tipe 1, bahkan untuk tahap paling awal sekalipun, adalah penggantian insulin. Tanpa insulin, ketosis dan diabetic ketoacidosis bisa menyebabkan koma bahkan bisa mengakibatkan kematian. Penekanan juga diberikan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan olahraga). Terlepas dari pemberian injeksi pada umumnya, juga dimungkinkan pemberian insulin melalui pump, yang memungkinkan untuk pemberian masukan insulin 24 jam sehari pada tingkat dosis yang telah ditentukan, juga dimungkinkan pemberian dosis (a bolus) dari insulin yang dibutuhkan pada saat makan. Serta dimungkinkan juga untuk pemberian masukan insulin melalui "inhaled powder".

Perawatan diabetes tipe 1 harus berlanjut terus. Perawatan tidak akan mempengaruhi aktivitas-aktivitas normal apabila kesadaran yang cukup, perawatan yang tepat, dan kedisiplinan dalam pemeriksaan dan pengobatan dijalankan. Tingkat Glukosa rata-rata untuk pasien diabetes tipe 1 harus sedekat mungkin ke angka normal (80-120 mg/dl, 4-6 mmol/l). Beberapa dokter menyarankan sampai ke 140-150 mg/dl (7-7.5 mmol/l) untuk mereka yang bermasalah dengan angka yang lebih rendah. seperti "frequent hypoglycemic events". Angka di atas 200 mg/dl (10 mmol/l) seringkali diikuti dengan rasa tidak nyaman dan buang air kecil yang terlalu sering sehingga menyebabkan dehidrasi. Angka di atas 300 mg/dl (15 mmol/l) biasanya membutuhkan perawatan secepatnya dan dapat mengarah ke ketoasidosis. Tingkat glukosa darah yang rendah, yang disebut hypoglycemia, dapat menyebabkan kejang atau seringnya kehilangan kesadaran.

Diabetes mellitus tipe 2

Diabetes mellitus tipe 2 — dulu disebut non-insulin-dependent diabetes mellitus (NIDDM, "diabetes yang tidak bergantung pada insulin") — terjadi karena kombinasi dari "kecacatan dalam produksi insulin" dan "resistensi terhadap insulin" atau "berkurangnya sensitifitas terhadap insulin"(adanya defek respon jaringan terhadap insulin)yang melibatkan reseptor insulin di membran sel. Pada tahap awal abnormalitas yang paling utama adalah berkurangnya sensitifitas terhadap insulin, yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah. Pada tahap ini, hiperglikemia dapat diatas dengan berbagai cara dan Obat Anti Diabetes yang dapat meningkatkan sensitifitas terhadap insulin atau mengurangi produksi glukosa dari hepar, namun semakin parah penyakit, sekresi insulinpun semakin berkurang, dan terapi dengan insulin kadang dibutuhkan. Ada beberapa teori yang menyebutkan penyebab pasti dan mekanisme terjadinya resistensi ini, namun obesitas sentral (fat concentrated around the waist in relation to abdominal organs, not it seems, subcutaneous fat) diketahui sebagai faktor predisposisi terjadinya resistensi terhadap insulin, mungkin dalam kaitan dengan pengeluaran dari adipokines ( nya suatu kelompok hormon) itu merusak toleransi glukosa. abdominal gemuk Adalah terutama aktip hormonally. Kegendutan ditemukan di kira-kira 90% dari pasien dunia dikembangkan mendiagnose dengan jenis 2 kencing manis. Lain faktor boleh meliputi mengeram dan sejarah keluarga, walaupun di dekade yang ter]akhir [itu] telah terus meningkat mulai untuk mempengaruhi anak remaja dan anak-anak.

Diabetes tipe 2 boleh pergi tak ketahuan bertahun-tahun dalam suatu pasien [sebelum/di depan] hasil diagnosa [sebagai/ketika] gejala yang kelihatan adalah secara khas lembut atau yang tidak ada,, tanpa ketoacidotic, dan dapat sporadis.. Bagaimanapun, kesulitan yang menjengkelkan dapat diakibatkan oleh jenis tak ketahuan 2 kencing manis, termasuk kegagalan yang berkenaan dengan ginjal, penyakit yang vaskuler ( termasuk penyakit nadi/jalan utama serangan jantung), visi merusakkan, dan lain lain

Diabetes Tipe 2 biasanya, awalnya, diobati dengan cara perubahan aktivitas fisik (biasanya peningkatan), diet (umumnya pengurangan asupan karbohidrat), dan lewat pengurangan berat badan. Ini dapat memugar kembali kepekaan hormon insulin, bahkan ketika kerugian berat/beban adalah rendah hati,, sebagai contoh, di sekitar 5 kg ( 10 sampai 15 lb), paling terutama ketika itu ada di deposito abdominal yang gemuk. Langkah yang berikutnya, jika perlu,, perawatan dengan lisan [[ antidiabetic drugs. [Sebagai/Ketika/Sebab] produksi hormon insulin adalah pengobatan pada awalnya tak terhalang, lisan ( sering yang digunakan di kombinasi) kaleng tetap digunakan untuk meningkatkan produksi hormon insulin ( e.g., sulfonylureas) dan mengatur pelepasan/release yang tidak sesuai tentang glukosa oleh hati ( dan menipis pembalasan hormon insulin sampai taraf tertentu ( e.g., metformin), dan pada hakekatnya menipis pembalasan hormon insulin ( e.g., thiazolidinediones). Jika ini gagal, ilmu pengobatan hormon insulin akan jadilah diperlukan untuk memelihara normal atau dekat tingkatan glukosa yang normal. Suatu cara hidup yang tertib tentang cek glukosa darah direkomendasikan dalam banyak kasus, paling terutama sekali dan perlu ketika mengambil kebanyakan pengobatan.

Diabetes mellitus gestasional

Kencing manis mellitus gestasional ( gestational kencing manis mellitus, GDM) juga melibatkan suatu kombinasi dari kemampuan reaksi dan pengeluaran hormon insulin yang tidak cukup, menirukan jenis 2 kencing manis di beberapa pengakuan. [Itu] kembang;kan selama kehamilan dan boleh meningkatkan atau menghilang lenyap setelah penyerahan. Sungguhpun mungkin saja penumpang sementara, gestational kencing manis boleh merusakkan kesehatan dari janin atau ibu, dan sekitar 20%–50% dari wanita-wanita dengan kencing manis gestational kembang;kan jenis 2 kencing manis kemudian (dalam) hidup.

Gestational kencing manis mellitus (GDM) terjadi di sekitar 2%–5% dari semua pregnancies. [Itu] adalah temporer dan secara penuh bisa perlakukan tetapi, tidak diperlakukan, boleh menyebabkan permasalahan dengan kehamilan, termasuk macrosomia ( kelahiran yang tinggi menimbang), bentuk cacad hal-hal janin dan penyakit jantung sejak lahir. [Itu] memerlukan pengawasan hati-hati yang medis sepanjang kehamilan.

Fetal/Neonatal resiko yang dihubungkan dengan GDM meliputi keganjilan sejak lahir seperti berhubungan dengan jantung, sistem nerves yang pusat, dan [sebagai/ketika/sebab] bentuk cacad otot. Yang ditingkatkan hormon insulin hal-hal janin boleh menghalangi sindrom kesusahan dan produksi surfactant penyebab hal-hal janin yang berhubung pernapasan. Hyperbilirubinemia boleh diakibatkan oleh pembinasaan sel darah yang merah. Di kasus yang menjengkelkan, perinatal kematian boleh terjadi, paling umum sebagai hasil kelimpahan placental yang lemah/miskin dalam kaitan dengan perusakan/pelemahan yang vaskuler. Induksi/Pelantikan mungkin ditandai dengan dikurangi placental fungsi. Bagian Cesarean mungkin dilakukan jika ditandai kesusahan hal-hal janin atau suatu ditingkatkan resiko dari luka-luka/kerugian dihubungkan dengan macrosomia, seperti bahu dystocia.

Gejala

Tiga serangkai yang klasik tentang gejala kencing manis adalah polyuria ( urination yang sering), polydipsia ( dahaga ditingkatkan dan masukan cairan sebagai akibat yang ditingkatkan) dan polyphagia ( selera yang ditingkatkan). Gejala ini boleh kembang;kan sungguh puasa diset dicetak 1, terutama sekali di anak-anak ( bulan atau minggu) tetapi mungkin sulit dipisahkan atau dengan sepenuhnya absen & & mdash; seperti halnya mengembang;kan jauh lebih pelan-pelan & mdash; diset dicetak 2. Diset dicetak 1 [di/ke] sana boleh juga jadilah kerugian berat/beban ( di samping normal atau yang ditingkatkan makan) dan kelelahan yang tidak dapat diperkecil lagi. Gejala ini boleh juga menjelma diset dicetak 2 kencing manis di pasien kencing manis siapa adalah dengan kurang baik dikendalikan. Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka glukosa akan sampai ke air kemih. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (poliuri).

Akibat poliuri maka penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak minum (polidipsi).

Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polifagi).

Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual dan berkurangnya ketahanan selama melakukan olah raga. Penderita diabetes yang kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi.

Karena kekurangan insulin yang berat, maka sebelum menjalani pengobatan penderita diabetes tipe I hampir selalu mengalami penurunan berat badan. Sebagian besar penderita diabetes tipe II tidak mengalami penurunan berat badan.

Pada penderita diabetes tipe I, gejalanya timbul secara tiba-tiba dan bisa berkembang dengan cepat ke dalam suatu keadaan yang disebut dengan ketoasidosis diabetikum. Kadar gula di dalam darah adalah tinggi tetapi karena sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, maka sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain. Sel lemak dipecah dan menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang bisa menyebabkan darah menjadi asam (ketoasidosis). Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan berkemih yang berlebihan, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernafasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah. Bau nafas penderita tercium seperti bau aseton. Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi koma, kadang dalam waktu hanya beberapa jam.

Bahkan setelah mulai menjalani terapi insulin, penderita diabetes tipe I bisa mengalami ketoasidosis jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stres akibat infeksi, kecelakann atau penyakit yang serius.

Penderita diabetes tipe II bisa tidak menunjukkan gejala-gejala semala beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbullah gejala yang berupa sering berkemih dan sering merasa haus. Jarang terjadi ketoasidosis. Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi akibat stres-misalnya infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang disebut koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik.

Gejala awalnya berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL, maka glukosa akan sampai ke air kemih. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (poliuri).

Akibat poliuri maka penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak minum (polidipsi).

Sejumlah besar kalori hilang ke dalam air kemih, penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polifagi).

Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual dan berkurangnya ketahanan selama melakukan olah raga. Penderita diabetes yang kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi.

Karena kekurangan insulin yang berat, maka sebelum menjalani pengobatan penderita diabetes tipe I hampir selalu mengalami penurunan berat badan. Sebagian besar penderita diabetes tipe II tidak mengalami penurunan berat badan.

Pada penderita diabetes tipe I, gejalanya timbul secara tiba-tiba dan bisa berkembang dengan cepat ke dalam suatu keadaan yang disebut dengan ketoasidosis diabetikum. Kadar gula di dalam darah adalah tinggi tetapi karena sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, maka sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain. Sel lemak dipecah dan menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang bisa menyebabkan darah menjadi asam (ketoasidosis). Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan berkemih yang berlebihan, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernafasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah. Bau nafas penderita tercium seperti bau aseton. Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi koma, kadang dalam waktu hanya beberapa jam.

Bahkan setelah mulai menjalani terapi insulin, penderita diabetes tipe I bisa mengalami ketoasidosis jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stres akibat infeksi, kecelakann atau penyakit yang serius.

Penderita diabetes tipe II bisa tidak menunjukkan gejala-gejala semala beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbullah gejala yang berupa sering berkemih dan sering merasa haus. Jarang terjadi ketoasidosis. Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi akibat stres-misalnya infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang disebut koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik.

Diabetes dan puasa

Pasien yang cukup terkendali dengan pengaturan makan saja tidak mengalami kesulitan kalau berpuasa. Pasien yang cukup terkendali dengan obat dosis tunggal juga tidak mengalami kesulitan untuk berpuasa. Obat diberikan pada saat berbuka puasa. Untuk yang terkendali dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dosis tinggi, obat diberikan dengan dosis sebelum berbuka lebih besar daripada dosis sahur. Untuk yang memakai insulin, dipakai insulin jangka menengah yang diberikan saat berbuka saja. Sedangkan pasien yang harus menggunakan insulin (DMTI) dosis multipel, dianjurkan untuk tidak berpuasa dalam bulan Ramadhan.[2]

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Diabetes_mellitus

Diabetes mellitus




Saat ini pengidap diabetes tidak lagi orang lanjut usia tapi juga banyak diidap oleh kelompok usia produktif. Diabetes, yang diambil dari kata Diabetes mellitus, adalah sekelompok penyakit metabolis, yang dicirikan dengan kadar gula darah (glukosa), yang tinggi. Penyakit ini terjadi akibat kerusakan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya.


Penyebab

Diabetes terjadi jika tubuh tidak menghasilkan hormon insulin yang cukup untuk mempertahankan kadar gula darah yang normal, atau jika sel tubuh tidak merespon insulin secara tepat. Hal itu bisa terjadi karena gaya hidup yang penuh stres, jarang olahraga dan pola makan yang tidak seimbang.



Menurut The American Diabetes Association, ada sejumlah faktor risiko penyebab diabetes, antara lain:
  • Riwayat keluarga mengidap diabetes (orang tua, atau saudara kandung)
  • Obesitas
  • Berusia lebih dari 45 tahun
  • Kelompok etnis tertentu
  • Kehamilan
  • Tekanan darah tinggi
  • Kadar trigliserida dalam darah tinggi
  • Kadar kolesterol tinggi

Diabetes mellitus dikategorikan atas 2 tipe:
  1. Diabetes mellitus tipe I (diabetes yang tergantung pada insulin) menghasilkan sedikit insulin atau sama sekali tidak menghasilkan insulin. Sebagain besar Diabetes mellitus tipe I terjadi sebelum usia 30 tahun. Faktor lingkungan berupa infeksi virus atau faktor gizi pada masa anak-anak menyebabkan sistem kekebalan tubuh menghancurkan sel penghasil insulin di pankreas.
  2. Diabetes Mellitus tipe II (diabetes yang tidak tergantung pada insulin), pankreas tetap menghasilkan insulin, kadang kadarnya lebih tinggi dari normal. Tetapi tubuh membentuk kekebalan terhadap efeknya sehingga terjadi kekurangan insulin relatif. Biasanya terjadi setelah usia 30 tahun.

Gejala

Seseorang yang mengidap Diabetes Mellitus, cenderung mengalami:
  • Rasa haus yang berlebihan.
  • Sangat sering berkemih (volume urin banyak)
  • Selalu merasa lelah/kekurangan energi
  • Mengalami infeksi kulit yang sulit sembuh
  • Penglihatan menjadi kabur (Buta Ayam)
  • Berat badan merosot drastis (pada sebagian penderita)
  • Hyperglaisimia (peningkatan abnormal kandungan gula darah)
  • Glaikosuria (terdapat kandungan glukosa dalam urin)

Pencegahan dan Pengobatan
  1. Mempertahankan berat badan ideal dan melakukan gaya hidup aktif. Latihan (gerak) fisik sangat penting untuk mencegah diabetes. Paling tidak, berolahragalah setengah jam per hari. Jalan cepat untuk mempercepat detak jantung atau gerakan yang menghasilkan keringat. Menurut penelitian, orang yang berjalan cepat selama 30 menit setiap hari selama lima hari per minggu, dan orang yang berat badannya turun 5-7 persen dari berat badan totalnya, akan dapat mengurangi risiko terkena diabetes sampai 50%.
  2. Menurunkan berat badan. Sekitar 80% pengidap diabetes mengalami kelebihan berat badan. Maka, hindari mengonsumsi makanan yang terbuat dari gula. Makanan yang diproses dan digoreng juga tidak sehat. Sebaliknya konsumsi makanan berserat sangat dianjurkan.
  3. Jangan merokok. Merokok tak hanya meningkatkan risiko diabetes tapi juga menyebabkan penyakit jantung dan kanker paru-paru.
  4. Jangan minum minuman beralkohol.
Sumber : http://www.cyberforums.us/showthread.php?t=22803

Persiapan Operasi pada Diabetes Melitus

Minggu, 12 Oktober 2008 | 14:32 WIB

Rubrik Konsultasi Kesehatan asuhan Prof Dr Samsuridjal Djauzi di surat kabar KOMPAS edisi Minggu:

Sudah sejak lima tahun ini saya (58) didiagnosis diabetes melitus. Selain diabetes, ternyata saya juga ada hipertensi dan penyakit jantung koroner.

Saya teratur minum obat penurun gula darah, obat darah tinggi, dan obat jantung. Tetapi, gula darah saya tidak sepenuhnya terkendali, masih sering di atas 200, karena saya sering makan di restoran untuk keperluan bisnis.

Dua minggu lalu saya dianjurkan dokter untuk operasi kelenjar prostat. Memang saya sudah mulai merasa tak nyaman jika berkemih sejak enam bulan lalu. Semula saya menyangka karena kurang minum, tetapi setelah banyak minum, keluhan tak berkurang.

Saya berkonsultasi dengan dokter dan dikatakan saya menderita pembengkakan kelenjar prostat. Saya menjalani berbagai pemeriksaan, termasuk pemeriksaan dubur, laboratorium, ultrasonografi, sampai sisa kemih. Kesimpulannya, saya menderita pembengkakan kelenjar prostat.

Untunglah pembengkakan ini menurut dokter bukan kanker, tetapi pembengkakan biasa saja. Saya awam di bidang medis karena latar belakang saya bisnis. Saya merasa khawatir menghadapi operasi karena menurut teman-teman jika penderita diabetes dioperasi akan timbul berbagai penyulit, di antaranya penyembuhan operasi akan sulit.

Saya juga ragu karena saya juga menderita darah tinggi dan penyakit jantung. Mohon pendapat Dokter karena di lain pihak saya juga sudah mulai sulit berkemih secara normal. Sebentar-sebentar ingin berkemih dan jika berkemih terasa tak puas. Pancarannya lemah dan hanya keluar sedikit.

Apakah cukup aman jika saya menjalani operasi prostat? Apakah operasi tersebut akan memperberat penyakit diabetes, hipertensi, atau jantung saya? Terima kasih atas jawaban Dokter.

B di J

Penyakit diabetes melitus merupakan penyakit yang sering dijumpai di masyarakat kita. Pengendalian diabetes melitus dilakukan dengan pengaturan makan, olahraga teratur, serta jika perlu digunakan obat pengatur gula darah. Penderita perlu memahami dengan baik mengenai penyakit diabetes, obat-obat serta komplikasi yang dapat timbul jika diabetes tak dikendalikan dengan baik.

Saya memahami kesibukan Anda sehari-hari dalam menjalankan bisnis, Anda harus sering makan di luar rumah. Tetapi, perlu juga diperhatikan pengaturan makan merupakan upaya penting dalam pengendalian diabetes. Kita tak dapat hanya mengandalkan obat pengatur gula darah.

Penggunaan obat tersebut tanpa dukungan pemahaman penyakit, pengaturan makan, dan olahraga sering tak berhasil. Dengan kata lain Anda perlu berupaya mengamalkan gaya hidup sehat meski Anda setiap hari sibuk. Anda perlu menerapkan pengaturan makan yang baik meski Anda makan di luar rumah.

Diabetes melitus yang tak terkendali memang dapat menimbulkan berbagai komplikasi. Bahkan jika gula darah tinggi kemampuan tubuh untuk mengatasi infeksi juga menurun. Tetapi, itu tak berarti penderita diabetes tak boleh menjalani operasi.

Untuk itu perlu dilakukan penilaian kelayakan operasi dan jika terdapat keadaan kurang menguntungkan untuk tindakan operasi, maka keadaan tersebut perlu diperbaiki. Nah, sudah tentu sebelum operasi dokter akan mengusahakan gula darah Anda menjadi baik. Ini dapat dilakukan dengan cara biasa atau dengan cepat.

Jika operasi perlu dilakukan cepat, maka diperlukan obat penurun darah yang cukup cepat, misalnya suntikan insulin. Namun, pada operasi berencana penurunan gula darah dapat dilakukan bertahap.

Selain diabetes, hipertensi juga harus dikendalikan. Begitu pula penyakit jantung koroner Anda perlu diobati dengan baik. Dengan demikian akan dicapai keadaan cukup ideal sebelum Anda menjalani operasi. Risiko operasi dapat ditekan.

Pada umumnya, diabetes terkendali, penyembuhan luka operasi dapat berjalan baik. Sudah tentu Anda dapat menanyakan lebih rinci kepada dokter Anda tentang risiko operasi yang Anda hadapi.

Dengan kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran dewasa ini, keberhasilan dan keamanan operasi meningkat tajam. Pasien biasanya dapat aktif kembali dalam beberapa hari. Namun, risiko operasi tetap ada. Anda perlu memahami risiko tersebut sebelum menyetujui tindakan operasi.

Dokter tak dapat menjanjikan keberhasilan tindakan, tetapi dokter akan berusaha sebaik-baiknya agar hasil operasi sesuai dengan harapan. Saya berharap Anda akan dapat menjalani operasi dengan baik dan dapat produktif kembali dalam waktu tak lama.

Sumber : http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/12/14323358/persiapan.operasi.pada.diabetes.melitus

Obat Hipertensi Ternyata Meningkatkan Risiko Diabetes

Beberapa obat hipertensi dapat meningkatkan risiko diabetes terutama bagi mereka yang sudah memiliki risiko diabetes, berdasarkan hasil laporan peneliti di Amerika Serikat.

Menurut laporan tersebut, penghambat reseptor angiotensin (angiotensin-receptor blockers/ARBs) dan penghambat enzim pengubah angiotensin (angiotensin-converting-enzyme/ACE) merupakan obat hipertensi yang kurang berisiko menimbulkan diabetes. Kemudian diikuti oleh penghambat kanal kalsium yang berisiko sedang.

Ternyata penghambat beta dan diuretik adalah obat hipertensi yang paling berisiko menyebabkan diabetes. Laporan ini dipublikasikan dalam The Lancet bulan Januari 2007 lalu.

Terdapat perbedaan dalam berbagai obat yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi pada pasien yang menjadi diabetes, kata peneliti Dr. William Elliot, dari Departemen Pencegahan Penggunaan Obat, Pusat Kedokteran Universitas Rush, Chicago.

Dalam studi tersebut, Elliott dan rekan kerjanya Peter Meyer mengamati hasil 22 uji klinis yang melibatkan lebih dari 143,000 orang. Pasien tersebut memiliki tekanan darah tinggi tetapi tidak memiliki penyakit diabetes pada awal uji klinis. Pada tiap uji klinis, partisipan menerima pengobatan jangka panjang dengan berbagai jenis obat hipertensi atau plasebo.

Pengobatan konvensional yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi di Amerika adalah diuretik dan penghambat beta. Elliott menyebutkan bahwa kedua jenis obat tersebut merupakan obat yang berpeluang besar menyebabkan diabetes.

Ditemukan bahwa jenis obat hipertensi baru (penghambat reseptor angiotensin dan penghambat enzim pengubah angiotensin) adalah obat yang kurang menyebabkan diabetes, sedangkan penghambat kanal kalsium memiliki risiko sedang.

Elliot mencatat bahwa risiko terkena diabetes ketika menggunakan diuretik dan penghambat beta tergantung beberapa faktor, seperti berapa lama anda menjalani pengobatan, berat badan anda, riwayat diabetes dalam keluarga, apakah anda mengalami kenaikan berat badan dan faktor risiko lain.

Bagaimana dokter harus meresepkan obat hipertensi berdasarkan temuan studi ini kurang dibahas. Kata Elliot,”Di Britain mereka memiliki pedoman bahwa kombinasi diuretik dan penghambat beta sebaiknya tidak digunakan bersama karena peningkatan risiko diabetes.”

Dokter yang menangani pasien yang berisiko diabetes sebaiknya diresepkan penghambat reseptor angiotensin dan penghambat enzim pengubah angiotensin daripada pengobatan lini pertama yaitu pengambat beta dan diuretik.

Bagaimanapun, jika anda sebagai dokter yang memiliki pasien dengan tekanan darah tinggi, penyakit ginjal dan baru mengalami serangan jantung, berarti mereka akan mendapatkan pengobatan penghambat beta untuk melindungi mereka dari serangan jantung. Mereka juga akan diberikan diuretik karena penyakit ginjal.

Jika mereka menderita diabetes, anda hanya bisa menerimanya dan terus maju. Anda tidak bisa menyangkal bahwa mereka membutuhkan pengobatan yang mereka butuhkan hari ini di luar risiko diabetes yang mungkin mereka dapat alami.

Seorang ahli diabetes berpikir bahwa dokter harus mengambil risiko pasien dapat mengalami diabetes ketika meresepkan obat tekanan darah tinggi.

Pengobatan yang disesuaikan dengan individu sangat penting, ungkap Dr. Stuart Weiss, seorang ahli endokrin Pusat Kedokteran Universitas New York. Dengan “ledakan” diabetes di negeri ini (AS), perlu pertimbangan ketika memberikan antihipertensi pertama mereka.

Weiss berpikir bahwa pasien tersebut sebaiknya tidak diawali dengan penghambat beta atau diuretik. “Berdasarkan semua data mengenai penggunaaan jangka panjang penghambat reseptor angiotensin dan penghambat enzim pengubah angiotensin dan risiko terendah menyebabkan diabetes, adalah hal bagus untuk memberikan obat ini di awal pengobatan pada pasien yang bahkan memiliki risiko rendah diabetes tipe 2.

Seorang ahli jantung menyetujui bahwa pengobatan membutuhkan penyesuaian berdasarkan kebutuhan pasien.

“Sejak dokter memiliki banyak pilihan dalam menurunkan tekanan darah, masuk akal untuk menyesuaikan pilihan obat pada pasien yang mungkin berada pada risiko tinggi untuk penyakit tertentu,” ujar Dr. Byron K. Lee, seorang asisten profesor pengobatan divisi kardiologi pada Universitas California, San Fransisco.

Sebagai contoh, mereka yang memiliki risiko terbesar diabetes dapat diberikan obat penghambat reseptor angiotensin dan penghambat enzim pengubah angiotensin, sedangkan pada pasien yang berisiko terbesar terkena serangan jantung dapat diberikan penghambat beta, kata Lee.

Dalam berita yang berkaitan, mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat sama efektifnya dengan meminta resep obat yang menurunkan risiko diabetes tipe 2, menurut sebuah studi yang dilaporkan dalam jurnal yang terbit mingguan, British Medical Journal.

Peneliti dari Leicester mereview studi yang mengukur efek dari intervensi yang berbeda seperti gaya hidup, obat diabetes dan obat antiobesitas pada orang yang toleransi glukosanya terganggu.

Mereka menemukan bahwa perubahan gaya hidup seperti makan makanan sehat dan meningkatkan olahraga sama efektifnya dengan minum obat. Pada rata-rata, studi ini menemukan perubahan gaya hidup membantu menurunkan risiko berkembangnya diabetes tipe 2 sebanyak setengahnya dan juga lebih sedikit mengalami efek samping.

Link: http://www.medicastore.com/med/artikel.php?id=190&UID=20070312090354202.73.125.11